Lotek Buk Neng "Lamak di Urang, Sanang di Ambo"
- Minggu, 20-12-2020
HARRIS SUYATA -- KOMINFO
KACANG yang sudah digoreng itu, diblender beberapa detik. Setelah sedikit halus, serpihan kacang dituangkan ke wadah ulekan yang digiling dengan daun jeruk, bawang putih, kencur, gula aren, garam, dan sedikit air. Ditambah cabe rawit untuk kepedasan sesuai selera. Jadilah kuah lotek khas Buk Neng yang berada di Kelurahan Tanah Pak Lambik, Kecamatan Padang Panjang Timur.
Sebelum menyajikan satu porsi lotek, ada pertanyaan yang kerap diajukan Buk Neng kepada pembeli. "Pedas, sedang, pakai sayur?," kata-kata yang tak pernah luput darinya. Buk Neng tak mau pelanggan kecewa, karena selera tentu berbeda-beda.
Buk Neng bercerita, beberapa pelanggan, ada yang suka dengan sajian lontong, mie dan kuah kacang, tidak suka ada sayuran. "Padahal lotek itu ada sayurannya. Tapi itu selera. Yang penting lamak di urang, sanang di ambo," ceritanya ke Kominfo.
Istilah yang maknanya "enak sama orang, kebahagiaan bagi saya" ini, menjadi filosofi bagi wanita keturunan Jawa itu dalam berdagang. Prinsip berjualan Buk Neng tidaklah muluk-muluk, yaitu mencari yang halal.
Sebab itulah, meski berada di jalan kecil, pembeli dari berbagai kalangan datang untuk sekadar mencicipi lotek buatan wanita yang ramah itu. Harga satu piring lotek, tidaklah mahal. Hanya Rp 8.000. Bisa juga dipadankan dengan gorengan bakwan, seharga Rp 1.000.
Warung Buk Neng dibuka setiap hari dari jam 07.00 WIB dan tutup menjelang Shalat Dzuhur. Pembeli bisa sambil santai bercengkerama sembari meneguk secangkir kopi atau teh. (*)
